Tangisku Kutelan Sendiri

Adzan shubuh belum lagi terdengar
Saat kulangkahkan kaki menuju langgar

Di pelataran rumah sakit yang sederhana
Laki laki dan perempuan paruh baya
Duduk berjejer saling bicara
Ada sedikit ceria di wajah mereka
Bertemu kawan bicara
Meski tak saling kenal sebelumnya

Adzan shubuh perlahan mulai menggema
Sebagian mereka bergegas menyambut panggilanNya
Sebagian lagi entah kenapa diam saja

Selepas shubuh kuhampiri mereka
Coba resapi percakapannya
Tentang hal hal sederhana saja
Tentang keluarga
Tentang tetangga
Tentang masa muda
Tentang apa saja

Ada getir dari cerita yang ada
Tak ada anak yang bisa menemaninya
Bertemu dokter periksa sehatnya
Dengan alasan pekerjaan saja
Tak ada waktu untuk orangtua
Meski hanya satu bulan sekali saja

Bagai sembilu menyayat hati
Diam diam aku menangis sendiri
Menyesali diri yang tiada berarti

Tak pernah sekalipun aku menemani
Ayahku yang rutin periksa sehatnya sendiri
Beliau yang menjagaku sejak bayi
Tak pernah mengeluh tentang persoalan ini

Aku anak yang tak tau diri
Yang tak mengerti arti balas budi
Yang tak peduli orangtuanya sendiri

Tangisku kutelan sendiri
Isakku kusimpan di sanubari
Masih adakah waktu untuk memperbaiki diri
Menjaga ayahku yang berjalan sendiri
Menuju dunianya yang kadang tak kumengerti

Sanggupkah aku berikan bahagia baginya
Seperti yang telah ia berikan padaku selamanya
Mampukah aku menjaganya
Seperti yang ia lakukan sejak aku lahir ke dunia

Ah...aku tahu jawabannya
Namun aku tak berani menjawabnya


#dennymickyhidayat#
Depok, 14012019








Komentar

Postingan Populer