Commuter Line Pagi
Di ujung malam yang hendak melahirkan pagi
Ratusan orang berbondong mengejar rezeki
Menuju satu titik yang pasti
Stasiun kereta yang tak lagi sepi
Seperti yang telah dijanjikan
Rel besi menghantarkan dia datang
Ratusan orang menatap harap
Ratusan orang bersiap-siap
Bagai banjir di musim penghujan
Saling dorong membuka harapan
Tak peduli lelaki dan perempuan
Keberanian menjadi pedoman
Senyum puas tergambar jelas
Di sebagian wajah yang sebentar lagi pulas
Sebagian lagi menunduk lesu
Berdiri bersandar di tiang dan pintu
Aku di sini menyaksikannya
Satu persatu ku lihat wajah mereka
Mengapa tak ada senyum di sana
Mungkin mereka telah terlupa
Bahwa hidup ini sebentar saja
Sekejap kereta menggeliat perlahan
Mengantarkan wanita tua yang sibuk berdandan
Di sebelahnya duduk seorang jejaka tampan
Yang tak rela berbagi kursi dengan perempuan
Wangi parfum wanita menusuk hidungku
Memaksaku memandang kesitu
Seorang wanita muda tertunduk lesu
Meski dandanannya berkelas bermutu
Di sudut lain lelaki khusyuk mengaji
Bibirnya bergerak dengan suaranya yang lirih
Cahaya memancar dari wajah teduhnya
Jenggot rapih menghiasi wajahnya
Aku masih di sini menyaksikannya
Kereta bergerak terus ke utara
Semakin sesak dan terus meruak
Membawa segala harapan yang panjang
Membawa semua cerita jutaan orang
Kursi dan dinding kereta jadi saksi bisu
Dan aku hanya bisa menyaksikan itu
#Depok-Manggarai, 04122018#
Ratusan orang berbondong mengejar rezeki
Menuju satu titik yang pasti
Stasiun kereta yang tak lagi sepi
Seperti yang telah dijanjikan
Rel besi menghantarkan dia datang
Ratusan orang menatap harap
Ratusan orang bersiap-siap
Bagai banjir di musim penghujan
Saling dorong membuka harapan
Tak peduli lelaki dan perempuan
Keberanian menjadi pedoman
Senyum puas tergambar jelas
Di sebagian wajah yang sebentar lagi pulas
Sebagian lagi menunduk lesu
Berdiri bersandar di tiang dan pintu
Aku di sini menyaksikannya
Satu persatu ku lihat wajah mereka
Mengapa tak ada senyum di sana
Mungkin mereka telah terlupa
Bahwa hidup ini sebentar saja
Sekejap kereta menggeliat perlahan
Mengantarkan wanita tua yang sibuk berdandan
Di sebelahnya duduk seorang jejaka tampan
Yang tak rela berbagi kursi dengan perempuan
Wangi parfum wanita menusuk hidungku
Memaksaku memandang kesitu
Seorang wanita muda tertunduk lesu
Meski dandanannya berkelas bermutu
Di sudut lain lelaki khusyuk mengaji
Bibirnya bergerak dengan suaranya yang lirih
Cahaya memancar dari wajah teduhnya
Jenggot rapih menghiasi wajahnya
Aku masih di sini menyaksikannya
Kereta bergerak terus ke utara
Semakin sesak dan terus meruak
Membawa segala harapan yang panjang
Membawa semua cerita jutaan orang
Kursi dan dinding kereta jadi saksi bisu
Dan aku hanya bisa menyaksikan itu
#Depok-Manggarai, 04122018#
Komentar
Posting Komentar